Pengaturan Makan pada Diet Ketogenik
Pada intinya, makanan dengan kandungan karbohidrat yang rendah dan tinggi lemak boleh dikonsumsi pada diet ketogenik. Sementara itu, makanan yang harus dihindari pada diet ketogenik adalah makanan tinggi karbohidrat. Pembagian porsi karbohidrat, protein, dan lemak (zat gizi makro) juga berbeda pada diet ketogenik.a. Makanan yang Boleh Dikonsumsi pada Diet Ketogenik
Dilansir dari healthline, makanan ini sebaiknya dijadikan mayoritas asupan dalam diet ketogenik:- Daging (ayam, sosis, sapi, dll.)
- Telur
- Keju
- Kacang-kacangan
- Alpukat
- Sayuran rendah karbohidrat (lada, tomat, dan bawang)
- Ikan berlemak (tuna, salmon, dan makerel)
- Bumbu seperti garam, merica, dan rempah-rempah
b. Makanan yang Harus Dihindari/Dibatasi/Dikurangi pada Diet Ketogenik
Makanan dengan kandungan karbohidrat yang tinggi harus dihindari/dibatasi/dikurangi pada diet ketogenik. Berikut daftarnya!- Makanan dan minuman yang mengandung gula (susu, soda, es krim, jus buah, kue, dll.)
- Makanan bertepung seperti gandum dan sereal
- Buah
- Kacang
- Sayuran seperti kentang, ubi jalar, dan wortel
- Makanan/minuman rendah lemak seperti mayones rendah lemak
- Saus
- Lemak tidak sehat
- Alkohol
c. Pembagian Porsi Lemak, Protein, dan Karbohidrat pada Diet Ketogenik
Terdapat beberapa perbedaan pembagian porsi lemak, protein dan karbohidrat pada diet ketogenik, yaitu:- 90% lemak, 6% protein, dan 4% karbohidrat (diet ketogenik klasik)
- 82% lemak, 12% protein, dan 6% karbohidrat (diet ketogenik yang dimodifikasi)
- 60% lemak, 30% protein, 10% karbohidrat (diet rendah indeks glikemik)
Manfaat dari Diet Ketogenik
Diet ketogenik memiliki beberapa manfaat, yaitu:a. Menangani Epilepsi (Kejang)
Dikutip dari buku Krause and Mahan’s Food & the Nutrition Care Process, 15E-Saunders, Elsevier (2020) yang ditulis oleh Janice L. Raymond dan Kelly Morrow, diet ketogenik digunakan sebagai bentuk treatment dari epilepsi (kejang). Menurut penelitian pada tahun 2016 yang dilakukan pada pasien dengan riwayat epilepsi (kejang), 55% pasien sudah tidak mengalami kejang dan 85% pasien mengalami pengurangan frekuensi kejang setelah menerapkan diet ketogenik klasik (porsi perbandingan 4:1). Mengapa diet ketogenik bisa menangani epilepsi? Hal ini dikaitkan dengan keton dan lemak tidak jenuh ganda yang menjadi efek antikonvulsan (anti kejang). Keton digunakan sebagai alternatif energi di otak sebagai pengganti glukosa. Keton inilah yang dikatakan menjadi kunci mengapa diet ketogenik bisa digunakan sebagai treatment epilepsi (kejang). Diet ketogenik diyakini dapat meningkatkan resistensi terhadap stres metabolik, sehingga seseorang jadi tidak lebih mudah untuk mengalami kejang.b. Menurunkan Berat Badan
Dikutip dari Harvard, salah satu manfaat diet ketogenik adalah menurunkan berat badan. Hal ini bisa jadi jawaban dari mengapa diet ketogenik bisa diterapkan untuk menurunkan berat badan- Keinginan untuk makan (nafsu makan) berkurang karena banyaknya lemak yang dikonsumsi dalam diet ketogenik
- Menurunnya hormon yang merangsang rasa lapar seperti ghrelin dan insulin ketika asupan karbohidrat dibatasi
- Banyaknya kalori yang dibakar karena efek metabolik dari mengonversi lemak dan protein menjadi glukosa
c. Manfaat Diet Ketogenik Lainnya
Dilansir dari healthline, beberapa penelitian menunjukkan manfaat lain dari diet ketogenik, yaitu:- Memperbaiki faktor risiko yang berkaitan dengan lemak tubuh, level HDL (kolesterol baik), tekanan darah, dan gula darah.
- Diet ketogenik sedang dieksplorasi sebagai treatment kanker karena diet ketogenik ini bisa menghambat pertumbuhan tumor.
- Mengurangi gejala penyakit alzheimer
- Memperbaiki gejala penyakit parkinson
- Mengurangi level insulin yang merupakan kunci dari PCOS
- Menurut penelitian pada tahun 2014, diet ketogenik bisa digunakan untuk treatment cedera otak
Risiko dari Diet Ketogenik
a. Risiko Jangka Panjang Diet Ketogenik
Meski memiliki banyak manfaat, diet ketogenik juga memiliki risiko jangka panjang sepertib. Efek Samping Diet Ketogenik
Selain itu, saat menjalani diet ketogenik, efek samping ini mungkin akan dirasakan:- Level protein yang rendah di dalam darah
- Lemak tambahan di hati
- Defisiensi zat gizi mikro
- Kelaparan
- Kelelahan
- Brain fog
- Konstipasi (sembelit)
- Sakit kepala
