Daftar isi
- Mengapa Harus Konsumsi Obat tekanan Darah Tinggi
- Jenis-Jenis Obat Tekanan Darah Tinggi
- Prinsip Dasar Pemberian Obat Tekanan Darah Tinggi
- Bolehkah Tidak Patuh Terhadap Konsumsi Obat Tekanan Darah Tinggi?
- Kapan Obat Ditambah Atau Dikurangi Dosisnya?
- Apakah Ada Kontraindikasi Masing-Masing Obat Tekanan Darah Tinggi?
- Apakah Boleh Hanya Minum Obat Tanpa Olahraga dan Menjaga Pola Makan?
- Kelola Tekanan Darah Tinggi dengan Tepat!
Orang yang memiliki tekanan darah tinggi atau hipertensi umumnya akan mengonsumsi obat tekanan darah tinggi secara rutin. Jenis obat tekanan darah tinggi pun bervariasi dan memiliki mekanisme atau cara kerja yang berbeda-beda.
Konsumsi obat tekanan darah tinggi tidak boleh sembarangan dan sebaiknya disesuaikan dengan kondisi masing-masing individu. Lalu mengapa harus konsumsi obat dan apa saja jenis obat tekanan darah tinggi?
Mengapa Harus Konsumsi Obat tekanan Darah Tinggi
Pada orang dengan darah tinggi, konsumsi obat harus dilakukan secara rutin. Selain itu, evaluasi dan kontrol berkala harus dilakukan. Pemberian obat tekanan darah tinggi dilakukan untuk membantu mengontrol tekanan darah. Tekanan darah yang tinggi dalam waktu yang panjang dan terjadi terus-menerus akan menimbulkan berbagai risiko komplikasi pada organ lain seperti jantung, mata dan ginjal. Pemberian obat ditujukan untuk membatasi progresivitas penyakit dan masalah kesehatan lain yang bisa muncul.Jenis-Jenis Obat Tekanan Darah Tinggi
Pemberian obat tekanan darah tinggi dilakukan sepenuhnya oleh dokter berdasarkan pemeriksaan yang komprehensif. Adapun jenis-jenis obat darah tinggi yang umumnya digunakan adalah:1. Loop Diuretic
Obat tekanan darah tinggi golongan ini bekerja dengan cara membuang senyawa natrium, klorida, dan kalium melalui urin, sehingga dapat membantu menurunkan tekanan darah. Contoh obat ini adalah furosemid. Adapun efek sampingnya yaitu bisa membuat nyeri kepala, perut tidak nyaman.2. Angiotensin-converting enzyme (ACE) inhibitor
Obat angiotensin-converting enzyme (ACE) inhibitor bekerja dengan menurunkan produksi angiotensin, yang merupakan penyebab pembuluh darah konstriksi dan membuat tekanan darah menjadi tinggi. Contoh obat ACE inhibitor: captopril, enalapril, lisinopril, dan ramipril. Efek samping penggunaan obat tekanan darah tinggi ini berupa penurunan sensitivitas indra perasa, kehilangan nafsu makan, batuk kering kronis, pusing, sakit kepala, lelah, gangguan tidur atau insomnia, dan detak jantung cepat.3. Angiotensin II receptor blocker (ARB)
Angiotensin II receptor blocker (ARB) bekerja dengan cara menghalangi rreseptor angiotensin dalam tubuh. Obat ARB menghalangi kerja angiotensin dalam tubuh bukan menghalangi produksi angiotensin, sehingga tekanan darah menurun. Contoh obat golongan ARB berupa azilsartan, candesartan, irbesartan, dan valsartan. Efek samping penggunaan obat tekanan darah tinggi ini yaitu pusing sesekali, masalah sinus, maag, diare, dan sakit punggung.4. Calcium channel blocker (CCB)
Obat tekanan darah tinggi golongan calcium channel blocker (CCB) mencegah kalsium memasuki sel-sel jantung dan arteri. Kalsium dapat menyebabkan jantung dan pembuluh darah berkontraksi lebih kuat dan ini dihambat oleh CCB. Contoh obat CCB: amlodipine, nicardipine, nifedipine, dan nimodipine Efek samping berupa mengantuk, sakit kepala, sakit perut, bengkak di tangan atau kaki, sembelit, kesulitan bernapas, pusing, dan palpitasi atau detak jantung berdetak lebih cepat dari biasanya.5. Alpha blocker
Obat tekanan darah tinggi kategori alpha blocker digunakan untuk mengatasi darah tinggi dengan memengaruhi kerja hormon norepinephrine. Hormon ini mempengaruhi otot-otot pembuluh darah. Otot-otot pembuluh darah dapat melebar dan berkontraksi melalui obat ini, sehingga tekanan darah pun menurun. Contohnya adalah: doxazosin, terazosin hydrochloride, dan prazosinhydrochloride. Efek samping berupa, detak jantung yang cepat, pusing, dan penurunan tekanan darah saat berdiri.6. Beta blocker
Obat tekanan darah tinggi golongan beta blocker ini bekerja dengan cara menghambat efek dari hormon epinefrin (hormon adrenalin). Sehingga membuat detak jantung lebih lambat dan kekuatan pompa jantung menjadi menurun. Hal ini diikuti oleh penurunan volume darah yang mengalir di pembuluh darah sehingga menurunkan tekanan darah. Contoh obat beta blocker: atenolol, propranolol dan metoprolol. Efek samping dari obat hipertensi beta blocker yaitu bisa membuat insomnia, tangan dan kaki dingin, kelelahan, depresi, detak jantung lambat, sesak napas, nyeri dada, batuk, impotensi, sakit perut, sakit kepala, pusing, serta sembelit atau diare.7. Alpha-beta blocker
Alpha-beta blocker memiliki cara kerja yang sama dengan obat beta blocker. Obat ini biasanya diresepkan untuk pasien hipertensi yang berisiko tinggi terkena gagal jantung. Efek dari pengobatan ini adalah menurunnya laju detak jantung dan tekanan darah. Contoh obat alpha-beta blocker yaitu carvedilol dan labetalol.8. Aldosterone receptor antagonist
Obat aldosterone receptor antagonist biasanya digunakan pada pengobatan gagal jantung, tetapi bisa digunakan untuk membantu menurunkan tekanan darah tinggi. Obat tekanan darah tinggi ini membantu membuang cairan berlebih tanpa mengurangi kadar kalium di dalam tubuh, sehingga tekanan darah menurun. Contoh obat aldosterone receptor antagonist yang paling umum digunakan adalah spironolactone. Efek samping yang umum terjadi seperti, mual dan muntah, kram perut, atau diare.9. Obat-Obat Lain yang Digunakan Pada Hipertensi
Obat tekanan darah tinggi lain yang digunakan adalah vasodilator yang bekerja dengan cara melebarkan otot-otot pembuluh darah, sehingga darah akan mengalir dengan lebih mudah dan tekanan darah jadi turun. Contohnya adalah hydralazine dan minoxidil. Selain itu, terdapat central-acting agents atau central agonist yang mencegah otak mengirim sinyal ke sistem saraf untuk mempercepat detak jantung dan mengkontraksikan pembuluh darah, sehingga tekanan darah menjadi turun. Contoh obat ini adalah clonidine dan metildopa.Prinsip Dasar Pemberian Obat Tekanan Darah Tinggi
Secara umum, pemberian obat tekanan darah tinggi mulai diberikan pada pasien hipertensi derajat 1 yang tidak mengalami penurunan tekanan darah setelah >6 bulan menjalani pola hidup sehat dan pada pasien dengan hipertensi derajat ≥2. Untuk itu, perlu diketahui bahwa berdasarkan American Society of Hypertension and the International Society of Hypertension tahun 2013 yaitu:| Klasifikasi | Sistolik (mmHg) | Diastolik (mmHg) |
| Hipertensi derajat 1 | 140-159 | 90-99 |
| Hipertensi derajat 2 | 160-179 | 100-109 |
| Hipertensi derajat 3 | ≥ 180 | ≥ 110 |
- Diawali dengan pemberian obat tunggal jika memungkinkan
- Diutamakan pemberian obat generik untuk meminimalisir pengeluaran yang besar
- Pada orang dengan usia lanjut (diatas usia 80 tahun) seperti pada usia 55 – 80 tahun, harus memperhatikan faktor komorbid atau penyakit penyerta
- Dokter akan menghindari kombinasi pemberian angiotensin converting enzyme inhibitor (ACE-i) dengan angiotensin II receptor blockers (ARBs)
- Edukasi yang menyeluruh kepada orang dengan tekanan darah tinggi
- Efek samping dipantau secara teratur sejalan dengan kontrol rutin yang dilakukan orang dengan hipertensi











